Selasa, 15 Juni 2010

Pria dan Lubang Buaya

Kalau Anda selama ini sering mengikuti artikel yang ada di hitmansystem.com , Anda pasti pernah membaca Wanita dan Pasir Hisap.

Nah sekarang saya akan menceritakan tentang Pria dan Lubang Buaya.

Pertama-tama, apa itu lubang buaya?

Lubang buaya adalah julukan untuk sumur dimana para Jenderal Angkatan Darat dibuang oleh kelompok PKI (atau setidaknya begitu menurut sejarah).

Kalau lubang buaya dalam sejarah adalah sumur dengan dasar, maka dalam Hitman System, lubang buaya adalah lubang tidak berdasar.

Saat Anda terjatuh ke dalamnya, Anda akan terus melayang tanpa pernah berhenti.

Lubang desperate, lubang lonely, lubang sakit hati, ya itu nama lain dari Lubang Buaya yang saya maksud.

Saya masih ingat bertahun-tahun lalu saat sedang mengejar seorang wanita, saya bertanya ke teman-teman apa yang harus dilakukan untuk menarik perhatiannya.

Dan seperti yang pernah Anda alami juga, rata-rata mereka akan mengatakan hal yang sama: "Udah tunjukkin elo suka ama dia lom?" atau "Ajak nonton, bayarin!"

Waktu itu saya tidak tahu apa-apa.

Tentu saja semua usulan itu terasa sangat benar. Saya melakukannya dengan setia dan persis anjuran mereka. Singkat cerita, saya berakhir tergelincir, jatuh, dan patah hati.

Setelah pelan-pelan merangkak naik, saya kembali bertemu wanita yang menarik.

Saya kembali bertanya ke teman-teman dengan saran mereka yang tidak berubah. Mentalitas saya yang masih lossy membuat saya melupakan pengalaman sebelumnya dan mengambil jalan yang sama.

Saya terjatuh kembali. Saya tidak belajar dari pengalaman. Saya kembali menempuh jalan yang sama yang menyebabkan saya dulu terjatuh.

Anda pasti pernah mendengar anekdot "Keledai aja gak akan jatuh di lubang yang sama."

Jika seekor keledai terjungkir pada sebuah jalan, dia memiliki cukup intelijensi untuk mengenali bentuk lubang yang membuatnya terjatuh dan berusaha menghindarinya lain kali. Seekor keledai menggunakan kemampuan otaknya (yang serba terbatas) untuk tidak terjatuh lagi.

Sebagai pria, kita katanya dianugerahi kekuatan logika yang mengatasi intuisi hati. Tetapi pada kenyataannya dalam urusan romance, seringkali logika itu lalu dikalahkan oleh emosi-emosi lainnya.

Anda tidak menyadari ketika Anda berusaha merangkak naik setelah sebelumnya terjatuh dari wanita A yang menolak Anda, tiba-tiba datang wanita B yang menawan hati Anda sehingga Anda mengulang jalan berlubang yang sama dan Anda kembali tergelincir ke dalamnya.

Anehnya, Anda akan sibuk menyalahkan lubang sialan itu atau malah menyalahkan wanita tersebut.

Anda jarang sekali menyadari bahwa mungkin jalan yang Anda lalui itu yang menyebabkan Anda terjatuh.

Saat seorang pria sedang mengejar wanita, ia akan terbiasa untuk menggunakan jalan yang sama, jalan yang diajarkan oleh paragdima, oleh lingkungan, oleh TV, film, atau novel. Jalan yang Anda pikir akan mengantarkan Anda ke hati wanita tersebut.

But sayangnya..

... yang ada di ujung jalan tersebut adalah lubang yang tidak berkesudahan.

Jadi apa yang harus saya lakukan untuk menghindari lubang tersebut?

Pertama, sadarkan diri Anda dari paradigma yang salah. Buang saran-saran dari teman Anda yang dulu terbukti hanya membuat diri Anda terjatuh.

Kedua, mungkin bukan salah Anda kalau Anda hanya mengetahui hanya satu jalan untuk mendapatkan wanita. Semua orang di sekeliling Anda terbiasa mengejar wanita, jadi Anda otomatis melakukan hal yang sama. Saya tidak bisa memberikan Anda puluhan jalan lainnya berikut detil cara kerja karena itu hanya tersedia di HSEW, namun yang bisa saya bagikan adalah satu prinsip utamanya: JANGAN PERNAH MENGEJAR WANITA DENGAN NGAREP!

Langkah ketiga adalah, tampar diri Anda ketika Anda sadar Anda tengah berjalan menurun menuju lubang tersebut, dan segeralah berbalik arah! Karena begitu Anda mencicipi jalan tersebut, Anda akan terus mencoba jalan tersebut berharap ujungnya bukanlah lubang. Dan begitu Anda terjatuh, Anda akan terus terjatuh sampai Anda mau berusaha menarik diri Anda dan mencari jalan yang lain.

So guys, do us a favor.

Kalau keledai saja bisa sadar saat mengambil jalan yang salah, Anda juga bisa kan? Atau Anda lebih dungu dari keledai dan masih tetap melangkah di jalan yang berujung lubang buaya itu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More